Selasa, 05 April 2011

Siapa Paling Untung di Bisnis Telekomunikasi


Lembaga riset dan konsultan independen global, Frost Sullivan mengungkapkan, di Indonesia, secara kualitatif, teknologi paling berpengaruh saat ini adalah revolusi di bidang telekomunikasi dengan perkembangan internet dan mobile phone.

Teknologi tersebut telah mengubah gaya hidup dan interaksi sosial konsumen di Indonesia, dengan merebaknya interaksi sosial di dunia maya tanpa batas ruang dan waktu.

Kondisi ini juga yang menentukan kinerja keuangan perusahaan penyedia layanan telekomunikasi seluler di Indoanesia. Persaingan di industri ini dinilai ketat, karena adanya perang tarif antarpenyedia operator seluler yang saat ini berjumlah 11 operator.

Frost and Sullivan memperkirakan, setidaknya ada tiga operator seluler yang memiliki basis kuat di Indonesia, yakni PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dengan Telkomsel, PT Indosat Tbk (ISAT), dan PT XL Axiata Tbk (EXCL).

Ketiga operator tersebut merupakan perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Lalu, bagaimana dengan kinerja keuangan mereka?

Dari segi laba bersih, XL Axiata mencatat pertumbuhan tertinggi ketimbang Indosat dan Telkom. XL Axiata mencatat laba bersih sebesar Rp2,89 triliun pada tahun buku 2010.

Angka tersebut naik sebesar 69 persen dari perolehan laba bersih 2009 yang sebesar Rp1,7 triliun.

Hal itu dipicu kemampuan perseroan mempertahankan kenaikan beban usaha di kisaran sembilan persen. Total beban usaha perseroan sepanjang 2010 tercatat Rp12,29 triliun atau tumbuh 9,34 persen dibandingkan tahun buku tahun 2009 sebesar Rp11,24 triliun.

Tampaknya, pertumbuhan yang menjulang pada XL tidak berlaku bagi Indosat. Sebab, laba bersih Indosat tergerus sebesar 56,8 persen pada tahun buku 2010 dari periode sama 2009.

Indosat hanya mencatat laba bersih sebesar Rp647 miliar dibanding tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,49 triliun. Penurunan laba bersih ini disebabkan turunnya pendapatan usaha non seluler sebesar Rp16,7 persen menjadi Rp3,77 triliun pada 2010 dari Rp4,52 triliun pada tahun sebelumnya.

Adapun Telkom, bisa dibilang mengalami pertumbuhan stagnan. Perusahaan pemilik operator seluler Telkomsel ini mencatat pertumbuhan laba sebesar Rp11,54 triliun pada 2010.

Perolehan laba itu naik tipis 1,2 persen dari tahun buku 2009 sebesar Rp11,39 triliun. Sedangkan dua tahun lalu, perusahaan pelat merah ini mencatat laba bersih sebesar Rp21,61 triliun.

Dari sisi aset, XL Axiata masih lebih rendah dibandingkan perusahaan telekomunikasi lainnya, Telkom. XL mencatat jumlah aset sebesar Rp27,25 triliun, meski turun dari tahun lalu sebesar Rp27,38 triliun.

Adapun Telkom memiliki nilai total aset sebesar Rp99,75 triliun pada 2010 atau naik 1,99 persen dari 2009 sebesar Rp97,81 triliun. Telkom juga mencatat laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar Rp36,76 triliun, turun tipis 0,99 persen dari posisi 2009.

Sementara itu, atas kinerja keuangan perusahaan-perusahaan operator tersebut, analis PT Majapahit Securities Wesley Andry, mengatakan industri telekomunikasi Indonesia saat ini sudah masuk masa kejenuhan. Kejenuhan, diperlihatkan dengan perang tarif yang menyebabkan keuntungan perusahaan telekomunikasi mengecil.

"Mungkin untuk jangka panjang, saham-saham telekomunikasi masih bisa dipegang. Tetapi untuk jangka menengah, saya tidak merekomendasikan," kata dia ketika dihubungi VIVAnews.com di Jakarta.

Wesley menambahkan, dari sisi pergerakan saham juga tidak menunjukkan stabilitas yang baik. "Kadang turun atau naik, seperti ada yang memainkan," ujar dia.

Selain itu, dia menuturkan, arus modal asing yang deras juga mendorong naik turunnya saham telekomunikasi. "Indonesia pasar emerging market, jadi bisa suatu saat dilepas turun atau naik, saya melihatnya secara teknikal," kata Wesley.

Bahkan, Wesley beranggapan, secara fundamental kinerja saham-saham di sektor telekomunikasi saat ini tidak memiliki faktor pendorong yang kuat. "Kecuali Telkom, yang kemarin berniat mengakuisisi 100 persen saham Telkomsel, makanya dia bisa naik," kata dia.

Dia menargetkan, saham berkode TLKM itu akan mencapai harga Rp7.500 pada tahun ini. (art)

• VIVAnews

Tidak ada komentar:

Posting Komentar